Kamis, 12 Januari 2012

Stratifikasi Sosial: Determinan & Konsekuensi


Stratifikasi Sosial: Determinan & Konsekuensi

                Stratifikasi sosial dan kelas sosial adalah dua hal yang berbeda. Stratifikasi sosial adalah pembagian sekelompok orang ke dalam tingkatan atau strata yang berjenjang secara vertikal. Stratifikasi sosial lebih diartikan sebagai ikhwal posisi yang tidak sederajat antar orang atau kelompok dalam masyarakat, sehingga sering dikaitkan dengan persoalan kesenjangan sosial atau polarisasi sosial. Sementara itu, kelas sosial lebih merujuk pada satu lapisan atau strata tertentu dalam sebuah stratifikasi sosial. Kelas sosial cenderung diatrtikan sebagai kelompok yang anggota-anggotanya memiliki orientasi politik, nilai budaya, sikap, dan perilaku sosial yang secara umum sama.
Dalam masyarakat modern, perbedaan strata yang terbentuk tidak lagi atas dasar hal-hal yang kodrati.  Akan tetapi, stratifikasi menjadi lebih kompleksidak lagi bersifat given. Seperti yang dikatakan Jeffris dan Ranford (1980), dalam masyarakat pada dasarnya di bedakan menjadi 3 stratifikasi sosial yaitu:
1.       Hierarki Kelas, yang didasarkan pada penguasaan atas barang dan jasa
2.       Hierarki kekuasaan, yang didasarkan pada kekuasaan
3.       Hierarki status, yang didasarkan atas pembagian kelompok dan status sosial.

Selain ketiga dimensi stratifikasi diatas ada hal yang perlu diceramati adalah kemungkinan
terjadinya akumulasi dari sejumlah dimensi itu. Seperti yang dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi (1964), bahwa masyarakat yang posisinya tinggi akan cenderung mengakumulasikan posisi dalam dimensi yang berlainan.
                Kemiskinan yang terjadi karena struktur yang tidak adil inilah yang disebut dengan kemiskinan struktural. Menurut Selo Soemardjan (1980), yang dimaksud dengan kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut mrnggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan struktural biasanya terjadi di dalam suatu masyarakat di mana terdapat perbedaan yang tajam antara mereka yang hidup kekurangan dengan yang hidup dalam kemewahan.
                Perbedaan tingkat pendidikan, kekayaan status atau perbedaan kelas sosial tidak Cuma mempengaruhi perbedaan dalam hal gaya hidup dan tindakan tetapi --seperti yang ditulis Horton dan Hunt (1987)— juga menimbulkan sejumlah perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, seperti peluang hidup dan kesehatan, peluang kerja dan berusaha, respons terhadap perubahan, pola sosialisasi dalam keluarga, dan perilaku politik.
1.       Gaya Hidup, gaya hidup yang ditampilkan antara kelas sosial satu dengan yang lain tidak sama, bahkan ada yang mencoba mengembangkan gaya hidup yang eksklusif.
2.       Peluang Hidup dan Kesehatan, menurut studi Robert Chambers (1987) menemukan bahwa keluarga yang miskin, tidak berpendidikan, dan rentan, mereka umumnya lemah jasmani dan mudah terserang penyakit
3.        Respons Terhadap Perubahan, setiap kali ada perubahan tentunya membutuhkan proses untuk adaptasi, dan bahkan respons yang tepat dari warga masyarakat yang tengah berubah itu.
4.       Peluang Kerja dan Berusaha, peluang bekerja danberusaha antara kelas sosial yang rendah dengan yang diatasnya jauh berbeda. Dengan koneksi, kekuasaan, tingkat pendidikan yang tinggi dan kekayaan kelas sosial yang diatas lebih mudah membuka usaha atau mencari pekerjaan.
5.       Perilaku Politik, berdasarkan studi yang dilakukan oleh Erbe (1964), Hansen (1975), Kim Petrocik, dan Enokson (1975) menyimpulkan bahwa semakin tinggi kelas sosial semakin cenderung sang individu mendaftarkan diri sebagai pemilih, memberikan suara, tertarik pada politik, membahas soal-soal politik, menjadi organisasi yang memiliki arti penting secara politik dan berusaha mempengaruhi pandangan politik orang lain (Zanten, 1979:263-267)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar