Kamis, 12 Januari 2012

makalah filsafat - ilmu sebagai rangkaian aktivitas penelitian


BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Penyusunan makalah ini didasari dari tuntutan perkuliahan atas pengenalan ilmu Filsafat. Sebagaimana diketahui bahwa filsafat merupakan akar dari kelahiran berbagai ilmu Pengetahuan. Sebagai basik pembelajaran Filsafat Ilmu, diperlukan pemahaman tentang ilmu sebagai bagian yang terjalin dengan filsafat.

Ilmu sebagai bagian dari pemampatan pengetahuan rasional merupakan serangkaian aktivitas yang memiliki karakter tersendiri hingga dapat dibedakan dari berbagai aktivitas biasa nonkeilmuan. Adanya kompleksitas tersebut mendorong disusunnya pengklarifikasian yang bisa difasilitasi melalui karya tulis makalah. Prinsip dasar ilmu yang telah dipaparkan ahli-ahli merupakan bekal yang dapat mengkonfirmasi esensi ilmu sebagai serangkaian aktivitas penelitian.

B.     PEMBATASANMASALAH
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada:
1.      Esensi Ilmu
2.      Ilmu sebagai rangkaian aktivitas yang berkarakter
3.      Ilmuwan dan masyarakat ilmiah
4.      Pendapat para ahli tentang tujuan ilmu

C.    PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah ilmu itu?
2.      Siapa sajakah yang dapat disebut sebagai ilmuwan dan masyarakat ilmiah?
3.      Apakah yang dimaksud dengan ilmu sebagai rangkaian aktivitas penelitian? Karakter apa saja yang menyertai rangkaian aktivitas tersebut?
4.      Bagaimana pendapat para ahli tentang tujuan ilmu itu sendiri?

D.   TUJUAN
Makalah ini dimaksudkan agar pembaca dapat memahami karakteristik aktivitas yang dimiliki oleh ilmu beserta lingkungan yang melingkupinya dan pencapaian yang diharapkan.

E.   MANFAAT
Makalah ini diharapkan  mampu memperluas pemahaman pembaca tentang hakikat ilmu.  Selain itu, mampu mendefinisikan karakteristik ilmu juga menjadi sasaran pembahasan materi di makalah ini, sehingga bagi mahasiswa dapat membantu kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu dalam kegiatan perkuliahan.


BAB II
PEMBAHASAN
I.            ESENSI ILMU
Kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm"yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.Ilmu merupakan aktivitas manusia, yaitu suatu kegiatan melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk suatu proses.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.
Berbeda darisekadar ‘pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
Di bawah ini diuraikan sifat ilmiah milik ilmu. 
  1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
  2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
  3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
  4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
II.            ILMUWAN DAN MASYARAKAT ILMIAH
Ilmuwan adalah seseorang yang melakasanakan rangkaian aktivitas yang disebut ilmu. Ilmuwan terkadang disebut juga sebagai scientist. Di Eropa khususnya di Inggris, orang mencari sebutan khusus bagi mereka yang mengembangkan natural science untuk dibedakandari kelompok cendekiawan lainnya. Menurut William Whewell dalam The Quarterly Reviewtahun 1834 mengusulkan bahwa kaum terpelajar hendaknya diberi sebutan sama dengan seniman/artist.
Dalam buku Philosphy of Inductive Sciencesterbitan tahun 1840 karya William Whewell tersirat “We need very much a name to describe a cultivator of science in general. I should incline to call him a Scientist. ”(Kita sangat membutuhkan suatu nama untuk melukiskan seorang pengembang ilmu pada umumnya. Saya harus condong menyebutnya seorang Ilmuwan).
Warren Hagstrom merumuskan, scientist adalah “a man of scientific knowledge – one who adds to what is known in the sciences by writing articles or books” (seseorang yang berpengetahuan ilmiah – seorang yang dikenal dengan karangan atau bukunya). Di sisi lain Kata ‘ilmuwan’ diperkenalkan ke dalam bahasa Inggris sekitar tahin 1840 untuk membedakan   mereka yang mencari keajegan dalam alam dengan para filsuf, kaum terpelajar dan cendikiawan             dalam suatu makna yang lebih umum (Ross 1962).
Menurut Maurice Richter, Jr. “Those who participate in science in relativelydirect and creative      ways may be called scientists. All scientist, insofar as they communicate openly among themselves about their respective scientific activities, may be recognized as participants in the    scientific community). (Mereka yang ikut serta dalam ilmu dalam cara-cara yang secara relative langsung dan kreatifdapat disebut ilmuwan. Semua ilmuwan, sejauh mereka melakukan komunikasi terbuka di antara mereka mengenai aktivitas-aktivitas ilmiah mereka masing-masing, dapat diakui sebagai peserta dalam masyarakat ilmiah).

III.            ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN
Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu kegiatan manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Berdasarkan hakikat ilmu yang telah dipaparkan sebelumnya, kegiatan yang dinyatakan sebagai ilmu tidak bersifat tunggal, melainkan lebih dan saling menjalin dan membentuk proses. Sebagai pembeda rangkaian aktivitas yang disebut ilmu dengan serangkaian aktivitas biasa dapat dilihat dari sifat yang menyertai tindakan tersebut. Serangkaian aktivitas dapat dikatakan sebagai ilmu ketika diterapkan dengan prinsip dasar rasional, kognitif dan teleologis.
Rasionalitas dari serangkaian aktivitas menyatakan bahwa  setiap tindakan akan disertai penalaran logis. Dengan demikian, setiap aktivitas mendapatkan telaah sesuai kaidah-kaidah yang dianggap masuk akal pada umumnya. Konsep ini dibenarkan oleh definisi rasional itu sendiri. Dalam bahasa inggris,rational mempunyai definisi yaitu dapat diterima oleh akal dan pikiran dapat ditalar sesuai dengan kemampuanotak. Hal-hal yang rasional adalah suatu hal yang di dalam prosesnya dapat dimengerti sesuai dengan kenyataan dan realitas yang ada.Biasanya kata rasional ditujukan untuk suatu hal atau kegiatan yang masuk di akal dan diterima dengan baik oleh masyarakat. Rasional juga berarti norma - norma yang sudah baku di dalam masyarakat dan telah menjadi suatu hal yang biasa dan permanen.
Manjadi serangkaian aktifitas yang bersifat kognitif mengkonfirmasi bahwa ilmu dipraktikkan dengan kesadaran dan pengetahuan. Meminjam teori dari Jean Peaget, Psikolog Swiss, tentang konsep kecerdasan yang dalam hal ini berinterpretasi pada sifat kognitif, ilmu yang bersifat kognitif dapat dijabarkan sebagai aktivitas yang melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Kognitif yang bertalian dengan pengetahuan, pemahaman, dan tanggung jawab memperjelas kompleksitas rangkaian aktivitas ini sehingga dapat dikatakan ilmu.
Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu.Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan.

IV.            TUJUAN ILMU MENURUT PARA AHLI
Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah.Maka, berdasarkan konsep di atas, jelaslah bahwa dengan kata teologi pada serangkaian aktivitas tersebut menggagaskan bahwa ilmu merupakan serangkaian aktivitas manusiawi yang memiliki tujuan tertentu. Tujuan apakah itu, akan tergantung dari setiap aplikan ilmu.
Corak teleologis dalam ilmu, mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani suatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan, dan tujuan tersebut sesuai dengan masing-masing praktisi disiplin ilmu. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuan.
Dalam hal ini terjadilah kejamakan dan keanekaragaman tujuan karena masing-masing ilmuwan merumuskan suatu tujuan yang berbeda satu sama lain. Pendapat-pendapat yang berlainan dari berbagai ilmuwan atau filsuf tetnang ilmu tersebut dapat dikutipkan di bawah ini.
a.       Pernyataan Robert Ackermann
“Kadang-kadang dikatakan bahwa tujuan ilmu ialah mengendalikan alam, dan kadang-kadang ialah untuk memahami alam.
b.      Pernyataan Francois Bacon
“Tujuan sah dan senyatanya dari ilmu-ilmu adalah sumbangan terhadap hidup manusia dengan ciptaan-ciptaan baru dan kekayaan.
c.       Pernyataan Jacob Bronowski
“Tujuan ilmun ialah menemukan apa yang benar mengenai dunia ini.Aktivitas ilmu diarahkan untuk mencari kebenaran, dan ini dinilai dengan ukuran apakah benar terhadap fakta-fakta.”
d.      Pernyataan Mario Bunge
“Pertama-tama, meningkatkan pengetahuan kita (tujuan intrinsik dan kognitif); kelanjutannya, meningkatkan kesejahteraan dan kekuasaan kita (tujuan ekstrinsik atau kemanfaatan).
e.       Pernyataan Enrico Cantore
“Tujuannya ialah menemukan struktur yang terpahami dari realitas yang dapat diamati atau alam.”
f.       Pernyataan Albert Einstein
“Tujuan ilmu di satu pihak ialah pemahaman selengkap mungkin mengenai pertalian di antara pengalaman inderawi dalam keseluruhannya, dan di pihak lain ialah pencapaian tujuan ini dengan pemakaian sejumlah minimum pengertian-pengertian dasar dan hubungan-hubungan.
g.      Pernyataan William Goode & Paul Hatt
“Dinyatakan secara singkat, tujuan tunggal ilmu ialah memahami dunia yang di dalamnya manusia hidup.”
h.      Pernyataan Alvin Gouldner
“Tujuan terkecil sesuatu usaha ilmiah ialah memperluas pengetahuan mengenai suatu bagian dari dunia ini.
i.        Pernyataan Carl Hempel & Paul Oppenheim
“Menjelaskan gejala-gejala dalam dunia pengalaman, menjawab pertanyaan ‘mengapa?’, daripada semata-mata pertanyaan ‘apa?’ merupakan salah satu dari tujuan-tujuan utama semua penyelidikan rasional; dan khususnya, penelitian ilmiah dalam aneka cabangnya berusaha melampaui sekadar hanya suatu pelukisan mengenai pokok soalnya dengan menyajikan suatu penjelasan mengenai gejala-gejala yang diselidikinya.”
j.        Pernyataan Alfred Hershey
“Tujuan langgeng dari usaha ilmiah, seperrti halnya semua usaha manusiawi, saya bayangkan, ialah mencapai suatu pandangan yang dapat dipahami tentang alam semesta.”
k.      Pernyataan Robert Hodes
“Tujuan (besar) penghabisan ilmu ialah menemukan ketertiban dalam alam.Semua metode ilmu pada dasarnya adalah usaha untuk menemukan ketertiban demikian itu.”
l.        Pernyataan Erich Kahler
“Setiap orang akan menyetujui bahwa tujuan dan aktivitas ilmu terdiri atas perolehan pengetahuan yang senantiasa lebih luas dan lebih dalam mengenai sifat dasar dari kenyataan.”
m.    Pernyataan Edwin Kemble
“Tujuan (besar) penghabisan dari usaha ilmiah ialah, tentu saja, penggabungan dari keterangan eksperimental yang diujui secara cermat dengan suatu teori bersifat menafsirkan yang menjelaskan fakta-fakta.
n.      Pernyataan Fred Kerlinger
“Tujuan dasar ilmu ialah teori. Barangkali secara kurang tersembunyi, tujuan dasar ilmu ialah menjelaskan gejala-gejala alamiah. Penjelasan demikian itu disebut teori.”
o.      Pernyataan Sheldon Lachman
“ Dua tujuan ilmu ialah :
1.      Menyajikan (penjelasan-penjelasan) yang luas dan mendalam mengenai gejala-gejala yang terjadi dalam alam semesta, dan
2.      Menyajikan ‘penjelasan-penjelasan’ bagi gejala-gejalaini dengan menunjukkan hubungan-hubungan yang ada di antara mereka.
p.      Pernyataan Michael Martin
“Tujuan utama ilmu ialah mencapai pemahaman ilmiah mengenai dunia ini.”
q.      Pernyataan Robert Merton
Pakar Sosiologi ini menganggap bahwa tujuan ilmu ialah pencarian yang rasional terhadap kebenaran (‘the rational pursuit of truth’).
r.        Pendapat Ernest Negel
“Tujuan khusus ilmu dengan demikian ialah penemuan dan perumusan dalam istilah-istilah umum keadaan yang menentukan terjadinya berbagai macam peristiwa, pernyataan-pernyataan yang dirumuskan secara umum mengenai keadaan yang menentukan demikian itu berguna sebagai penjelasan-penjelasan bagi peristiwa-peristiwa yang bersangkutan.
s.       Pernyataan David Newton
Sarjana ini merumuskan secara singkat dan spesifik tujuan ilmu adalah memerikan (mendeskripsikan) dunia ilmiah (‘to describe the natural world’).
t.        Pernyataan Arthur Pap
“Ilmu bertujuan pada penemuan kaidah-kaidah (dengan pengamatan, percobaan, dan deduksi) dan pemakaian kaidah-kaidah untuk maksud peramalan dan penjelasan mengenai fakta-fakta yang diamati atau dapat diamati.”
u.      Pernyataan Karl Popper
“Kami menyarankan bahwa tujuan ilmu ialah mencari penjelasan-penjelasan yang memuaskan mengenai apa saja yang menggugah kita sebagai yang memerlukan penjelasan.”
v.      Pernyataan Willard Poppy & Leland Wilson
“Tujuan ilmu tidak berubah sejak permulaan revolusi keilmuan pada abad ketujuh belas.Ilmu masih bersangkutan dengan dunia gagasan- ilmu mencari suatu penafsiran rasional tentang gejala-gejala alamiah.”
w.    Pernyataan I.I. Rabi
“Tujuan ilmu ialah membuat alam semesta, termasuk manusia sendiri, dapat dimengerti oleh umat manusia.”
x.      Pernyataan Maurice Richter, Jr.
“Tujuan ilmu sebagaimana umum diakui dewasa ini meliputi perolehan pengetahuan digeneralisasi yang sistematis mengenai dunia alamiah; pengetahuan yang membantu manusia memahami alam, meramalkan peristiwa-peristiwa alamiah, dan mengendalikan kekuatan-kekuatan alamiah.”
y.      Pernyataan Edwin Seligman
“Tujuan ilmu ialah analisis dan pemahaman.”
z.       Pernyataan Charles Singer
Sejarahwan ilmu ini menegaskan bahwa tujuan besar ilmu ialah membuat dunia ini dapat dipahami, atau sekurang-kurangnya dapat diperikan (dideskripsikan).
aa.   Pernyataan S.S. Stevens
Menurut ahli Psikologi ini tujuan ilmu ialah menciptakan pemerian-pemerian (penjelasan-penjelasan) yang dapat dilaksanakan mengenai alam semesta (to invent workable descriptions of the universe).
bb.  Pernyataan Julius Stratton
“Kini tujuan sejati dari ilmu murni ialah mengetahui dan memahami.”
cc.   Pernyataan F. Sherwood Taylor
Sejarahwan ilmu ini menyatakan bahwa ilmu mempunyai dua tujuan utama, yaitu memungkinkan manusia berbuat, dan mengetahui ( to enable man to do, and to know).
dd. Pernyataan Ladislav Tondl
“Terkadang dikatakan tentang ilmu bahwa tujuannya ialah membuat ramalan-ramalan atau membuat penjelasan-penjelasan mengenai fenomena sebagai suatu latar belakang yang mungkin bagi ramalan.
Selanjutnya kita harus menganggap sebagai suatu unsure khas dalam penjelasan ilmiah penemuan keteraturan-keteraturan demikian itu, hipotesis-hipotesis atau kaidah-kaidah sebagaimana memungkinkan kita membuat ramalan atau menghasilkan tindakan-tindakan atau kewaspadaan-kewaspadaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.Dalam arti ini kita dapat juga memahami perumusan yang dipendekkan bahwa tujuan ilmu ialah peramalan atau pembuatan.”
ee.   Pernyataan Victor Weisskopf
“Tujuan utama ilmu bukanlah dalam penerapan, tujuannya ialah mencapai pemahaman-pemahaman terhadap sebab-sebab dan kaidah-kaidah mengenai proses-proses alamiah.”
ff.    Pernyataan A. Wolf
“Tujuan utama ilmu ialah penemuan mengenai sifat dasar dan kaidah-kaidah dari benda-benda dan peristiwa-peristiwa sehingga kita dapat memahami dan menjelaskan mereka.”

Berbagai pendapat dari ilmuwan dan filsuf yang beraneka ragam mengenai tujuan ilmu tersebut di atas dapat diikhtisarkan sebagai berikut:

Ackerman        : mengendalikan dan memahami alam
Bacon              : simbangan ciptaan dan kekayaan baru
Bronowski       : mencari kebenaran
Bunge              : meningkatkan pengetahuan, kesejahteraan, dan kekuasaan
Cantore           : menemukan struktur kenyataan/alam
Einstein           : memahami pengalaman inderawi
Goode & Hatt : memahami dunia
Gouldner         : memperluas pengetahuan mengenai dunia
Hempel &
Oppenheim      : menjelaskan gejala pengalaman
Hershey           : memahami alam semesta
Hodes              : menemukan ketertiban alam
Kahler             : memperoleh pengetahuan mengenai kenyataan
Kemble            : menciptakan teori yang menjelaskan fakta
Kerlinger         : menjelaskan gejala alamiah dengan teori
Lachman         : menyajikan pemerian(pendefinisian) & penjelasan mengenai gejala                       alamiah
Martin             : mencapai pemahaman ilmiah mengenai dunia
Merton                        : mencari kebenaran
Nagel               : merumuskan pernyataan yang menjelaskan peristiwa
Newton           : memerikan dunia ilmiah
Pap                  : menemukan kaidah yang meramalkan dan menjelaskan fakta
Popper             : mencari penjelasan mengenai segalanya
Poppy&Wilson: mencari penafsiran mengenai gejala alamiah
Rabi                 : memahami alam semesta
Richter            : memperoleh pengetahuan yang memahami, meramalkan, dan mengendalikan alam
Seligman         : menganalisis dan memahami
Singer              : memahami atau memerikan dunia
Stevens            : memerikan alam semesta
Stratton           : mengetahui dan memahami
Taylor              : memungkinkan manusia berbuat dan mengetahui
Tondl               : meramalkan atau menjelaskan gejala
Weisskopf       : memahami sebab dan kaidah proses alamiah
Wolf                : memahami dan menjelaskan sifat dasar dan kaidah benda dan peristiwa.


V.            IKHTISAR TUJUAN ILMU
Dari uraian pendapat para ahli di atas, ternyata ilmu memiliki tujuan. Definisi atas tujuan ilmu tersebut begitu beragam, namun mengarah secara teratur dan terperinci pada aspek-aspek dan urutan berikut :
-pengetahuan (knowledge)
-kebenaran (truth)
-pemahaman (understanding, comprehension, insight)
-penjelasan (explanation)
-peramalan (prediction)
-pengendalian (control)
-penerapan (application, invention, production)
Kesemuanya itu pada dasarnya akan mengarah kepada kemudahan hidup bagi manusia serta berjalannya urusan manusia di muka bumi dalam koridor kebenaran. 

BAB III
PENUTUP

I.        KESIMPULAN
Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu, yaitu adanya sifat yang melekat pada ilmu itu berupa objektif, metodis, sistematis dan universal.
Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu kegiatan manusiawi. Kegiatan yang dinyatakan sebagai ilmu tidak bersifat tunggal, melainkan lebih dan saling menjalin dan membentuk proses. Sebagai pembeda rangkaian aktivitas yang disebut ilmu dengan serangkaian aktivitas biasa dapat dilihat dari sifat yang menyertai tindakan tersebut. Serangkaian aktivitas dapat dikatakan sebagai ilmu ketika diterapkan dengan prinsip dasar rasional, kognitif dan teleologis.Pada karakter yang terakhir, teleologis, yang berarti tujuan, menggagaskan bahwa rangkaian aktivitas itu memiliki tujuan. Dalam hal ini terjadi kejamakan dan keanekaragaman tujuan karena masing-masing ilmuwan merumuskan suatu tujuan yang berbeda satu sama lain.Pada intinya, tujuan tersebut mengarah secara teratur dan terperinci pada aspek-aspek dan urutan berikut:pengetahuan (knowledge), kebenaran (truth), pemahaman (understanding, comprehension, insight), penjelasan (explanation), peramalan (prediction), pengendalian (control), dan penerapan (application, invention, production)
Kesemuanya itu pada dasarnya akan mengarah kepada kemudahan hidup bagi manusia serta berjalannya urusan manusia di muka bumi dalam koridor kebenaran. 
II.     SARAN
Berpikir luas dan terbuka terhadap perkembangan ilmu demi pengaplikasian yang sesuai dengan koridor nilai dan norma yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

A B Henk ten Napel.2009. Kamus Teologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Drs. R.
Bagus, Lorenz.2000. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
Liang, Gie The.2000. Pengantar Filsafat Ilmu. Jogjakarta: Liberti.
Russ Bush.1994. A Handbook for Christian Philosophy. USA: Zondervan Publishing House.
Soedarmo.2010. Kamus Istilah Teologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

a.       Ilmu

b.      Rasional

c.       Teori perkembangan kognitif

d.      Teleologi


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar