Kamis, 12 Januari 2012

PENGKONDISIAN INSTRUMENTAL (Operant Conditioning) dan TEORI BELAJAR CLASSICAL CONDITIONING


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Banyak telah ditemukan teori belajar yang pada dasarnya menitikberatkan ketercapaian perubahan tingkah laku setelah proses pembelajaran.
Teori belajar merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang pengkondisian situasi belajar dalam usaha pencapaian perubahan tingkah laku yang diharapkan. Teori belajar yang berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran adalah teori belajar konstruktivisme dan teori belajar pemrosesan informasi. Teori belajar konstruktivisme adalah Teori yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentranformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan lama itu tidak lagi sesuai. Teori belajar pemrosesan informasi merupakan teori yang menitikberatkan tentang bagaimana informasi yang didapat tersebut dapat diolah oleh siswa dengan pemahamannya sendiri.
Pemanfaatan lingkungan sebebas-bebasnya untuk pencapaian tujuan belajar haruslah diberikan pada siswa, sehingga kreatifitas siswa lebih tampak.



BAB II PEMBAHASAN
“TEORI BELAJAR CLASSICAL CONDITIONING MENURUT IVAN PAVLOV”
“DAN PIAGET”

A. TEORI BELAJAR CLASSICAL CONDITIONING MENURUT IVAN PAVLOV

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936).

Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927).
Ia meninggal di Leningrad pada tanggal 27 Februari 1936. Sebenarnya ia bukan seorang sarjana psikologi dan ia pun tidak mau disebut sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik. Cara berpikirnya adalah sepenuhnya cara berpikir ahli ilmu faal, bahkan ia sangat anti terhadap psikologi karena dianggapnya kurang ilmiah. Dalam penelitian-penelitiannya ia selalu berusaha menghindari konsep-konsep meupun istilah-istilah psikologi. Sekalipun demikian, peranan Pavlov dalam psikologi sangat penting, karena studinya mengenai refleks-refleks akan merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme. Pandangannya yang paling penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaian-rangkaian refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja. Pandangan yang sebenarnya bermula dari seorang tokoh Rusia lain bernama I.M. Sechenov. I.M. yang banyak mempengaruhi Pavlov ini, kemudian dijadikan dasar pandangan pula oleh J.B. Watson di Amerika Serikat dalam aliran Behaviorismenya setelah mendapat perubahan-perubahan seperlunya.


Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu.
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.

Makanan adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.
Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia.

Adapun jalan eksperimen tentang refleks berkondisi yang dilakukan Pavlov adalah sebagai berikut:
Pavlov menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. Anjing itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa, sehingga tiap-tiap air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya. Pavlov kemudian menekan sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan di hadapan anjing percobaan. Sebagai reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur yang dapat terlihat jelas pada alat pengukur. Makanan yang keluar disebut sebagai perangsang tak berkondisi (unconditioned stimulus) dan air lliur yang keluar setelah anjiing melihat makanan disebut refleks tak berkondisi (unconditioned reflex), karena setiap anjing akan melakukan refleks yang sama (mengeluarkan air liur) kalau melihat rangsang yang sama pula (makanan).
Kemudian dalam percobaan selanjutnya Pavlov membunyikan bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum ia melihat makanan muncul di depanny. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur diamati terus. Mula-mula air liur hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak berkondisi), tetapi lama-kelamaan air liur sudah keluar pada waktu anjing baru mendengar bel. Keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai refleks berkondisi (conditioned reflects, karena refleks itu merupakan hasil latihan yang terus-menerus dan hanya anjing yang sudah mendapat latihan itu saja yang dapat melakukannya. Bunyi bel jadinya rangsang berkondisi (conditioned reflects). Kalau latihan itu diteruskan, maka pada suatu waktu keluarnya air liur setelah anjing mendengar bunyi bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bunyi bel itu. Dengan perkataan lain, refleks berkondisi akan bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak ada lagi. Pada tingkat yang lebih lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu yang menyala, maka lama-kelamaan air liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu walaupun ia tidak mendengar bel atau melihat makanan sesudahnya.
Demikianlah satu rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya sehingga binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi dipertahankan. Tentu saja tidak adanya rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan sampai pada taraf tertentu, karena terlalu lama tidak adarangsang tak berkondisi, binatang percobaan itu tidak akan mendapat imbalan (reward) atas refleks yang sudah dilakukannya dan karena itu refleks itu makin lama akan semakin menghilang dan terjadilah ekstinksi atau proses penghapusan refleks (extinction).
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi.
Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehari-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lain bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflects). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan Amerika Psychological Association (A.P.A.) mengakui bahwa Pavlov adalah orang yang terbesar pengaruhnya dalam psikologi modern di sampingFreud.


Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
Ivan Pavlov dengan “classical conditioning” nya:
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

• Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

• Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.













B. TEORI BELAJAR KOGNITIF MENURUT PIAGET

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu.
A. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Sebelum membicarakan tentang teori kognitif Jean Piaget, kita perlu terlebih dahulu mengetahui beberapa konsep penting yang diutarakan oleh beliau. Antara konsep-konsep penting tersebut adalah :

1. Skema

-Ia merujuk kepada potensi am yang ada dalam diri manusia untuk melakukan sesuatu
dengan cara tertentu.
-Contohnya, sewaktu dilahirkan, bayi telah dilengkapkan dengan beberapa gerakan pantulan
yang dikenali sebagai skema seperti gerakan menghisap, memandang, mencapai, merasa,
memegang, serta menggerakkan tangan dan kaki.
-Bagi gerakan memegang, kandungan skemanya adalah memegang benda yang tidak
menyakitkan.
-Oleh itu, bayi juga akan cenderung memegang benda-benda yang tidak menyakitkan seperti
contoh, jari ibu.
-Skema yang ada pada bayi akan menentukan bagaimana bayi bertindakbalas dengan
persekitarannya.


2. Asimilasi

-Asimilasi merupakan satu proses penyesuaian antara objek yang baru diperolehi dengan skema yang sedia ada.
-Proses asimilasi yang berlaku membolehkan manusia mengikuti sesuatu modifikasi skema hasil daripada pengalaman yang baru diperolehi.
-Contohnya, seorang kanak-kanak yang baru pertama kali melihat sebiji epal. Oleh itu, kanak-kanak tersebut akan menggunakan skema memegang (skema yang sedia ada) dan sekaligus
merasanya. Melaluinya, kanak-kanak tersebut akan mendapat pengetahuan yang baru baginya berkenaan "sebiji epal".

3. Akomodasi
-Merupakan suatu proses di mana struktur kognitif mengalami perubahan.
-Akomodasi berfungsi apabila skema tidak dapat mengasimilasi (menyesuaikan) persekitaranbaru yang belum lagi berada dalam perolehan kognitif kanak-kanak.
-Jean Piaget menganggap perubahan ini sebagai suatu proses pembelajaran.
-Contohnya, kanak-kanak yang berumur dua tahun yang tidak ditunjukkan magnet akan menyatukan objek baru ke dalam skemanya dan mewujudkan penyesuaian konsep terhadap magnet itu.

4. Adaptasi

-Ia merupakan satu keadaan di mana wujud keseimbangan di antara akomodasi dan asimilasi untuk disesuaikan dengan persekitaran.

-Keadaan keseimbangan akan wujud apabila kanak-kanak mempunyai kecenderungan sejadi untuk mencipta hubungan apa yang dipelajari dengan kehendak persekitaran.


Jean Piaget mendapati kemampuan mental manusia muncul di tahap tertentu dalam proses perkembangan yang dilalui. Menurut beliau lagi, perubahan daripada satu peringkat ke satu peringkat seterusnya hanya akan berlaku apabila kanak-kanak mencapai tahap kematangan yang sesuai dan terdedah kepada pengalaman yang relevan. Tanpa pengalaman-pengalaman tersebut, kanak-kanak dianggap tidak mampu mencapai tahap perkembangan kognitif yang tinggi.


Oleh yang demikian, beliau telah membahagikan perkembangan kognitif kepada empat tahap yang mengikut turutan umur. Tahap-tahap perkembangan tersebut ialah
• Tahap Sensorimotor @ deria motor (dari lahir hingga 2 tahun)
• Tahap Praoperasi ( 2 hingga 7 tahun)
• Tahap Operasi Konkrit (7 hingga 12 tahun)
• Tahap Operasi Formal (12 tahun hingga dewasa)
Teori Perkembangan Kognitif Piaget telah mendapat perhatian meluas dalam bidang Psikologi sejak kajiannya dikemukakan. Kajian Piaget menerangkan peringkat-peringkat perkembangan kognitif kanak-kanak dan proses pemikiran berasaskan perkembangan skema. Namun, teori dan kajiannya tetap menerima kritikan teutama berkaitan kelemahan teori dan metodologi yang digunakan.


KEUNGGULAN
Keunggulan dalam pembelajaran adalah :

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.



KELEMAHAN
Dari segi kelemahan teori ini adalah:
1.menyatakan bahawa teori Piaget tidak mampu menerangkan struktur, proses dan fungsi kognitif dengan jelas.
2.Tidak adanya kebenaran wujudnya empat peringkat perkembangan kognitif yang disarankan oleh Piaget (Gelman dan Baillargeon, 1983). Dapat dikataka masa kanak-kanak melalui setiap peringkat perkembangan kognitif berasaskan set operasi yang khusus, maka apabila kanak-kanak tersebut berjaya memahirkan set operasi tertentu, mereka sepatutnya juga dapat menyelesaikan semua masalah yang memerlukan set operasi yang sama.
Sebagai contoh, apabila kanak-kanak menunjukkan kemampuan pemuliharaan iaitu yang terdapat pada tahap operasi konkrit, maka berdasarkan teori Piaget, dia sepatutnya dapat menunjukkan kemampuan pemuliharaannya dalam angka dan berat pada masa yang sama. Namun, dalam kajian yang dilakukan oleh Klausmeier dan Sipple (1982) menunjukkan keadaan yang berbeza di mana kanak-kanak sentiasa menunjukkan kemampuan pemuliharaan berat lebih lewat daripada pemuliharaan angka. Keadaan ini adalah bercanggah dengan teori Piaget.


3.Dari segi metodologi juga, kaedah klinikal yang digunakan dalam kajian Piaget di mana kajian dengan kaedah klinikal sukar untuk diulang. Oleh itu, kesahihannya adalah diragui. Pengkritiknya juga menuduh Piaget membuat generalisasi daripada sampel-sampel yang saiznya terlalu kecil dan tidak menepati piawaian.

BAB III PENUTUP
A.KESIMPULAN
Dari kterangan diatas dapanp kita simpulkan bahwa teori belajar yang telah dikemukan oleh para ahli tersebut sangatlah berguna dalam pembelajaran yang diterapkan disekolah. Untuk itu poerlulah kita menerapkan teori itu demi kemajuan belajar disekolah. Teori itu tdak semuanya benar, tetapi ambillah yang dirasa perlu demi kemajuan proses belajar mengajar disekolah.

B.SARAN
Demi kemajuan makalah ini penulis mengharapkan saran dan kritik agar makalah ini lebih sempurna lagi. Dan dapat diperbaiki kedepannya.



BAB IV DAFTAR PUSTAKA

Buku :Drs. H.J. Gino, dkk.1997.Belajar Dan Pembelajaran I.Surakarta:UNS Press
Disadur dari: Sarlito W. Sarwono, 2002, Berkenalan dengan ALiran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (PT Bulan Bintang: Jakarta)
Trimanjuniarso.wordpress.com
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/
Diposkan oleh RINNY di 00:20


PENGKONDISIAN INSTRUMENTAL
  (Operant Conditioning)


tokoh : Edward Thorndike (1800-1900) seorang ahli biologi Amerika.

Pengkondisian instrumental adalah suatu proses belajar yang meliputi manipulasi akibat- akibat dari suatu respon dengan tujuan untuk menaikkan dan menurunkan probabilitas munculnya respon tersebut.
Dapat diinginkan untuk menaikkan kesempatan munculnya respon yang diinginkan dan sebaliknya menurunkan kesempatan munculnya respon yang tidak diinginkan.
Operant Conditioning adalah respon yang dilakukan subjek dinilai sebagai operasi subjek terhadap lingkungannya berdasarkan dukungan dari reinforcement.
Contoh kasus : Uji coba terhadap hewan-hewan yang dimasukkan ke dalam kotak puzzle (kotak teka-teki), dengan harapan hewan-hewan tersebut dapat menemukan jalan keluar dari kotak tersebut dan memperoleh makanan yang berada di luar kotak. Usaha awal hewan untuk menemukan jalan keluar dan mendapatkan makanan dengan sebutan perilaku “ trial error”.


A. Karakteristik Pengkondisian Instrumental

1. Penguatan / reinforcement
  terdapat penguatan yang berfungsi untuk mendukung atau membentuk perilaku khusus yang diinginkan.
Contoh : Teman kecopetan dan tahu siapa copetnya, tindakannya mengambil kembali.

2. Penguatan positif/ reward
 stimulus dihadirkan untuk menaikkan kekuatan suatu respon.
Contoh : mendapatkan hadiah jika naik kelas.

3. Penguatan Negatif
stimulus tidak dihadirkan untuk menaikkan kekuatan suatu respon.
4. Kontigensi
 Individu harus melakukan respon yang benar sebelum diberikan penguatan.
Contoh : individu mempunyai masalah dan minta opini, tetapi ia tidak konsisten terhadap opini tersebut.

B. Mengukur Kekuatan Respon

 1. Probabilitas Respon
 jumlah respon atau satuan waktu.
 2. Latensi Respon
 waktu yang digunakan untuk memulai melakukan respon.
 3. Total waktu respon
 berapa lama waktu yang diinginkan untuk melengkapi respon.

C. Tugas-tugas Diskriminatif

 Tugas diskriminatif adalah tugas yang mensyaratkan individu untuk melakukan pilihan antara 2 atau lebih stimulus agar mendapatkan penguatan.
- Respon yang diberi penguatan : S-D
- Respon yang tidak diberi penguatan S-Delta

PENGKONDISIAN KLASIKAL

Conditioning Learning yaitu peristiwa belajar melalui pengkondisian. Proses belajar pengkondisian menitikberatkan pada belajar assosiatif. Membuat suatu asosiasi atau hubungan baru dari dua peristiwa adalah bentuk belajar yang paling dasar. Para ahli psikologi membedakan belajar asosiatif dalam bentuk pengkondisian klasikal dan pengkondisian operan. Tokohnya antara lain Pavlov dan Skinner.
Istilah “klasikal” berasal dari eksperimen “klasik” yang dilakukan oleh Ivan P. Pavlov (1849-1936). Pavlov seorang psikolog Rusia yang memperkenalkan konsep pengkondisian dan mengemukakan prinsip-prinsip utama dalam pengkondisian klasik. Pengkondisian klasik juga sering disebut dengan respondent conditioning karena organisme semata-mata hanya sebagai “penerima” proses pengkondisian, dengan kata lain yang mengontrol proses pengkondisian adalah eksperimenter.

1. Dasar-dasar pengkondisian klasikal

Inti dari pengkondisian klasik adalah pemasangan stimulus yang benar-benar netral dengan stimulus yang secara alami menghasilkan respon tertentu. Stimulus yang pertama disebut unconditioned stimulus (US). Atau stimulus tidak bersyarat yaitu stimulus yang menimbulkan respon yang sifatnya alami yang disebut unconditioned response (UR) atau respon tidak bersyarat (misalnya, anjing melihat makanan akan melakukan respon mengeluarkan air liur). Stimulus yang kedua disebut conditioned stimulus (CS). Atau stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang menimbulkan respon khusus. Respon yang disebabkan oleh conditioned stimulus disebur conditioned response (CR) atau respon bersyarat. Untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam, maka lebih dahulu kita meninjau penelitian yang dilakukan oleh Pavlov.
Dalam penelitiannya, Pavlov memasangkan stimulus suara dengan stimulus makanan yang diberikan kepada anjing sebagai subjek penelitian. Pavlov mengharapkan anjing dapat merespon stimulus suara dengan mengeluarkan air liur (saliva). Dimana pada kondisi alami, stimulus suara tidak akan mendatangkan respon pengeluaran saliva. Dengan respon keluarnya saliva karwena stimulus suara, berarti anjing telah melakukan belajar pengkondisian klasikal. Dari hasil penelitiannya, Pavlov menyimpulkan bahwa prinsip-prinsip belajar pengkondisian klasikal dapat diterapkan kepada organisma-organisma dan perilaku-perilaku yang bervariasi.

2. Teori-teori pengkondisian klasik

 Menjelaskan dan memberikan suatu aturan tertentu dalam pengkondisian klasik, serta menjelaskan proses yang terjadi.

a) Subtitusi Stimulus
 Pemasangan CS dengan US menyebabkan CS dapat menjadi pengganti atau substitusi bagi stimulus tak bersyarat (US) dalam menimbulkan respon. Substitusi ini berkaitan dengan proses di otak. Jadi dalam otak terdapat dua bagian. Bagian yang satu mengolah CS dan yang lain mengolah US. Pengaktifan US akan menimbulkan refleks atau respon. Oleh karena itu pemberian CS akan mengaktifkan US dan menimbulkan refleks atau respon.

b) Informasi dan Ekspektasi/Pengharapan
 Dalam teori ini, CS dianggap sebagai sinyal bagi US. Jadi bila CS diberikan, organisme mengharapkan US dan respon yang diharapkan akan muncul. Bagaimana mekanisme CS menjadi sinyal bagi US dapat dijelaskan melalui sifat US yang menyenangkan. US membawa pengalaman yang menyenangkan dan disimpan dalm memori, misalnya air liur anjing keluar saat bel dibunyikan, karena anjing masih ingat bahwa setelah bunyi bel akan muncul makanan,sehingga dengan mendengar bunyi bel anjing sudah bereaksi mengeluarkan air liur sebagai antisipasi atau persiapan munculnya makanan.

3. Contiguity/ Interval Pemasangan

 Ada 5 metode dalam memasangkan CS dan US, yaitu:
a) SIMULTANEOUS CONDITIONING
 CS dan US diberikan serentak pada saat yang sama.
b) DELAYED CONDITIONING
 CS dahulu diberikan, baru kemudian diikuti US dan berakhir bersama-sama.
c) TRACE CONDITIONING
 US diberikan lebih dahulu, diberi tenggang waktu, baru kemudian US diberikan.
d) BACKWARD CONDITIONING
 US diberikan lebih dahulu baru kemudian diikuti CS.
e) TEMPORAL CONDITIONING
 Penyajian CS dan US tidak tentu/bervariasi, kadang-kadang US dahulu, kadang-kadang CS dahulu.

Dari kelima pengkondisian di atas, yang terbaik adalah proses DELAYED CONDITIONING karena proses berlangsungdengan tetap dan mempercepat terbentuknya CR. Waktu yang ideal untuk menunda berdasarkan penelitian Kimble (1967) adalah antara 0,5 sampai 30 detik. Sedangkan proses yang paling buruk adalah BACKWARD CONDITIONING karena tidak membantu atau melatih timbulnya belajar assosiasi antara CS dan US sehingga CR tidak cepat terbentuk.

4. Pemadaman (extinction) dan Pemulihan Spontan (spontaneous recovery)

 Bila respon bersyarat (CR) telah terbentuk, maka apa yang akan terjadi bila stimulus bersyaratnya (CS) tidak lagi dipasangkan dengan stimulus tak bersyarat (US), yang akan muncul adalah pemadaman (extinction) yaitu melemah atau hilangnya respon bersyarat (CR) yang telah terbentuk. Contohnya dalam penelitian diatas adalah bila lampu atau bunyi bel(CS) diberikan tanpa diikuti dengan munculnya makanan (US), maka air liur anjing yang mengalir segera setelah lampu atau bel dibunyikan (CR), secara bertahap akan menghilang atau air liur anjing tersebut tidak akan mengalir bila ia melihat lampu atau mendengar bunyi bel.

5. Generalisasi Stimulus dan Diskriminasi

 Anjing telah melakukan generalisasi bunyi bel dengan bunyi-bunyian lain sehingga bunyi-bunyian yang lain pun dapat memunculkan respon bersyarat (CR). Penelitian yang menggunakan respon kulit galvanis (RKG) menggambarkan generalisasi tersebut. RKG adalah kegiatan elektris kulit yang mudah terjadi selama stress emosional. Kasus-kasus phobia bukan objek yang menimbulkan ktakutan (CR) tetapi rasa takut itu sendirilah yang menjadi CR.



6. Aplikasi Pengkondisian KLasikal

 Proses pengkondisian klasik pada manusia dapat kita tinjau melalui respon emosional yang terkondisi terhadap stimulus tertentu. Raut wajah, pemandangan atau suara dapat menjadi CS bagi respon emosional.

7. Variabel-variabel Non- Pengkondisian

 Para peneliti telah mengidentifikasikan sejumlah variable yang memiliki pengaruh terhadap munculnya kondisi yang mirip dengan pengkondisian klasikal, yaitu:
a. Respon Alpha
 Respon yang muncul karena adanya respon orientasi ( apa yang diinginkan).
Contoh: Respon Alpha : kuliah
  Respon Orientasi : Lulus
 Seseorang kuliah dan belajar agar bisa lulus.
b. Habituasi (kebiasaan)
 CS sudah terbiasa dan berulang-ulang, biasanya bersifat negativ tetapi dapat disembuhkan.
Contoh : latah, bersendawa, menggigit-gigit kuku.
c. Sensitisasi
 Stimulus yang dipakai disimpan dan muncul kembali karena Habituasi. CS dan UCS yang mengikutiproses Habituasi.
Contoh : putus cinta lalu teringat kembali karena mendengar lagu ketika sewaktu berdua.
d. Pengkondisian Palsu
 CS dan UCS disajikan secara berulang-ulang tetapi dengan cara yang berbeda.
Contoh : terkadang tanpa disadari kita melakukan sesuatu secara terpaksa.
e. Hambatan Laten
 Suatu kondisi adanya hambatan yang dihasilkan oleh Habituasi
Contoh: orang yang mengalami kesusahan berusaha untuk memperbaikinya dan mungkin untuk lebih behati-hati.
f. Sensory Preconditioning
 CS dipadukan secara bersama-sama adalah tidak berpisah kepada yang akan distimulus.

Pemadaman(extinction) dan Pemulihan Spontan(spontaneous recovery)
- Pemadaman : menghentikan pemberian reinforcement.
- Pemulihan spontan : memberikan kembali reinforcement setelah pemadaman.

Bila subjek diberi stimulus yang berbeda dari CS yang asli, ada 3 kemungkinan respon yang akan dilakikan subjek :
1. membuat CR = CR dari CS yang asli.
2. membuat CR kurang kuat : dibandingkan dengan CR dari CS yang asli.
3. tidak sama dengan CR

keterangan:
1 dan 2 :generalisasi
3 :diskriminasi

generalisasi dibagi 3 :
1. stimulus primer : nampak apabila respon organisma tidak hanya untuk CS asli, tetapi juga untuk stimulus lain yang memiliki karakteristik fisik yang sama dengan CS asli.
2. stimulus sekunder : berdasarkan generalisasi 2 stimulus secara fisik.
3. respon : melakukan perbandingan adalah persamaan respon terhadap stimulus yang sama.

Diskriminasi : suatu kondisi apabila subjek hanya melakukan CR karena dikenai CS yang asl dan tidak melakukan CR bila dikenai CS yang lain.

Pengukuran Pengkondisian Respon
1. Amplitudo dari respon (amplitude of response)
- perbedaan besarnya kekuatan respon sebelum penkondisian untuk semua trial.
-stimulus juga harus baik
- magnitude of respon hanya untuk trial tertentu.
2. Frekuensi dari Respon
 - kehadiran atau ketidakhadiran CR selama pemberian Cs.
3. Latensi dari Respon
 -stimulus dan respon dapat muncul bersama
- asumsi : lebih pendek waktu yang dibutuhkan berarti lebih kuat CR tersebut.

4. Ketahanan dan Pemadaman
- jumlah usaha atau trial untuk melakukan pemadaman terhadap CR
- seberapa lama kekuatan respo dapat bertahan.


8. Efek dari penguatan sebagian

 penguatan sebagian ( partial reinforcement) adalah prosedur akuisisi atau pembentukan perilaku (CR) yang sama CS diberikan pada setiap trial, sedangkan UCS yang dipadukan dengan CS hanya diberikan pada beberapa trial tertentu. Sedangkan pada penguatan terus-menerus (continous reinforcement) atau penguatan 100 persen, pembentukan perilaku (CR) dilakukan dengan pemberian pasangan CS- UCS pada setiap trial.

9. Pengkondisian Gabungan

 Pavlov menyebut pengkondisian gabungan ini dengan kumpulan stimulus (stimulus aggregate), peneliti berikutnya merubahnya dengan pengkondisian gabungan (compound conditioning), dimana subjek dikenal lebih dari 1 CS yang dipasangkan dengan UCS.
 Terdapat 2 bentuk pengkondisian gabungan yaitu pengkondisian gabungan serentak (simultaneous compound conditioning) subjek dikenai lebih dari 1 CS dalam waktu yang sama, sedangkan pengkondisian gabungan berseri (serial compound conditioning) subjek dikenai lebih dari 1 CS dalam waktu yang berbeda.
v

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar